Profil Lipid adalah sekelompok tes yang sering digunakan untuk menentukan resiko Penyakit Jantung Koroner (PJK). Kelompok tes ini telah terbukti sebagai indikator yang baik apakah seseorang kemungkinan akan terkena serangan jantung atau stroke yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah arteri (atherosclerosis).

Profil lipid ini meliputi :

  • Total Kolesterol
  • High Density Lipoprotein Cholesterol (HDL-C)
  • Low Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C)
  • Trigliserida

LDL-C berfungsi mengangkut kolesterol ke dalam sel, dan terlibat dalam aterogenesis (deposit lipid di arteri koroner) pada penyakit kardiovaskuler, yang merupakan salah satu faktor resiko utama untuk infark miokard, sedangkan HDL-C mengangkut kolesterol dari sel ke hati untuk metabolisme. Faktor resiko (selain tingkat LDL-C) untuk Penyakit Jantung Koroner adalah merokok, usia (laki-laki ≥ 45 thn atau wanita ≥ 55 thn), kolesterol HDL rendah (<40 mg/dl [1,04 mmol/l]), hipertensi (tekanan darah > 140/90), riwayat keluarga dengan penyakit jantung prematur, diabetes dan obesitas.

Selain faktor resiko konvensional seperti profil lipid, ada beberapa biomarker lain yang muncul terkait dengan peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, seperti :

  • Apolipoprotein A-1 (APO A)
  • Apolipoprotein B (APO B)
  • High Sensitive C-Reactive Protein (hs-CRP)

Apolipoprotein dan rasio antar mereka berguna dalam penilaian resiko kardiovaskuler. Mereka memiliki nilai khusus dalam memantau terapi penurunan lipid, dimana HDL-C dan LDL-C saja kurang untuk memprediksi kejadian kardiovaskuler di masa depan. Apo A-1 dapat diperiksa ketika seseorang memiliki riwayat keluarga yang memiliki kadar lipid yang abnormal (hiperlipidemia) dan atau memiliki penyakit kardiovaskuler prematur. Selain itu juga bisa dilakukan untuk menentukan penyebab dari hiperlipidemia.

Fungsinya :
  • Untuk menentukan apakah cukup memiliki kadar Apo A-1, khususnya ketika kadar HDL-C kita turun
  • Untuk membantu menentukan faktor rsiko perkembangan penyakit kardiovaskuler

Apo-B merupakan protein utama dalam partikel lipoprotein yang potensial mengakibatkan penyakit kardiovaskuler, terutama partikel LDL. Penentuan konsentrasi Apo-B merupakan komponen penting untuk menentukan resiko penyakit kardiovaskuler. Peningkatan Apo-B berkaitan dengan peningkatan jumlah partikel lipoprotein.

Manfaat Pemeriksaan Apo-B :

  • Pemeriksaan Apo-B bermanfaat dalam menentukan terjadinya aterosklerosis dan peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler.
  • Penentuan Apo-B bermanfaat dalam menentukan resiko adanya small dense LDL (bentuk LDL yang lebih kecil dan padat). LDL memang berbahaya karena dapat menyusup ke dalam lapisan pembuluh darah, tetapi small dense lebih berbahaya, karena lebih mudah masuk ke pembuluh darah karena ukurannya yang kecil serta mudah teroksidasi dan memicu aterosklerosis. Rasio LDL kolesterol/Apo-B serum < 1,2 menunjukkan adanya small dense LDL yang meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler 3x lipat dibandingkan LDL dengan ukuran partikel yang normal.
  • 3. Penentuan Apo B bermanfaat dalam menentukan keberhasilan pengobatan terutama pengobatan menggunakan kelompok statin.

Yang memerlukan pemeriksaan Apo B :

  • Individu dengan kondisi gangguan lemak/dislipidemia, baik konsentrasi kolesterol yang tinggi maupun trigliserida yang tinggi. Trigliserida yang tinggi akan meningkatkan resiko terbentuknya small dense LDL.
  • Individu dengan nilai kolesterol LDL pada rentang normal pun memerlukan pemeriksaan Apo B, dan bila mengingat rasio kolesterol LDL direk/ Apo B < 1,2 merupakan batas small dense LDL, bisa saja ditemukan LDL normal tetapi Apo B tinggi, dengan demikian, small dense LDL dapat terbentuk.
  • Individu yang memperoleh pengobatan untuk gangguan lemak terutama pengobatan menggunakan kelompok statin.
  • Individu yang ingin melakukan uji saring kesehatan terutama untuk melihat profil lemak.

CRP adalah protein yang diproduksi oleh hati ketika terjadi cedera akut, peradangan, atau infeksi. Kadarnya akan meningkat di dalam darah 6-10 jam setelah peradangan akut atau kerusakan jaringan dan mencapai puncak 24-72 jam. Peningkatan kadar CRP dapat terjadi pada rheumatoid arhristis, infeksi akut, dan infark miokard. Kadar CRP akan menjadi normal 3 hari setelah kerusakan jaringan membaik. hs-CRP merupakan pemeriksaan untuk mengukur konsentrasi CRP yang sangat sedikit sehingga bersifat lebih sensitif. Pemeriksaan hs-CRP mendeteksi dengan lebih akurat pada konsentrasi lebih rendah dari protein fase akut dibanding tes CRP standar. Pemeriksaan CRP yang sangat sensitif ini diperlukan untuk memperkirakan resiko penyakit kardiovaskuler. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan profil lipid. Sepertiga dari pasien yang mendapat serangan menunjukkan peningkatan sehingga dari nilai hs-CRP dapat menunjukkan adanya resiko yang tinggi untuk timbulnya penyakit kardiovaskuler.

Pemeriksaan LDL - Direk digunakan untuk membantu menentukan resiko terkena penyakit jantung dan untuk mamantau terapi obat serta secara akurat dapat menentukan kadar LDL-C saat tidak berpuasa. LDL - Direk dilakukan sebagai lanjutan dari tes profil lipid jika nilai trigliserida meningkat secara signifikan, dan secara regular digunakan untuk memonitor keberhasilan penurunan kadar LDL.

Keuntungan pemeriksaan LDL - Direk :

  • Mengukur kadar LDL-C secara langsung, tidak tergantung pada kadar trigliserida, VLDL kolesterol dan bukan dari hasil perhitungan yang dapat menimbulkan resiko hasil yang tidak akurat.
  • Pasien tidak perlu puasa.


Trombosit atau keping darah (dalam bahasa inggris "platelets") adalah salah satu komponen dalam darah yang berperan signifikan dalam proses pembekuan darah.

Proses pembekuan darah akan terjadi bila jaringan tubuh kita mengalami luka, baik bagia dalam ataupun di bagian luar tubuh. Dalam permulaan proses ini trobosit akan berkumpul di daerah luka sel-sel trombosit akan bersatu/beragregasi membentuk sumbatan untuk menutup daerah luka.

Untuk mengetahui trombosit dalam menjalankan fungsinya, digunakan pemeriksaan Agregasi Trombosit, atau di kenal juga dalam masyarakat sebagai tes "kekentalan darah".

Mengapa pemeriksaan Agregasi Trombosit / "kekentalan darah" diperlukan?

Seperti yang telah sepintas dijelaskan, fungsi trombosit terutama adalah membentuk sumbatan (clot) dalam jaringan atau pembuluh darah. Pemeriksaan berkala dari fungsi trombosit diperlukan untuk memantau dan menjaga agar keaktifan trombosit tetap dalam batas normal.

Keaktifan yang terlalu tinggi atau dikenal masyarakat dengan istilah "darah kental", bisa menyebabkan trombosit untuk membentuk sumbatan-sumbatan yang berlebihan atau tidak seperlunya pada pembuluh darah organ-organ penting, dan merupakan faktor resiko penyakit jantung dan stroke, bisa juga menyebabkan gangguan pada saraf dan organ-organ seperti mata, telinga. Resiko ini bisa meningkat terutama pada penderita darah tinggi/hipertensi, gangguan kolesterol / lemak darah, diabetes/kencing manis.

Keaktifan trombosit yang menurun atau dikenal masyarakat dengan istilah "darah encer", juga bisa berakibat negatif, karena jelas akan mengganggu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka; bisa juga menandakan adanya penyakit kelainan darah yang mungkin belum terdeteksi sebelumnya. Penurunan fungsi trombosit juga perlu diwaspadai pada orang-orang yang sedang mengkonsumsi obat-obatan yang bisa menurunkan fungsi trombosit, terutama pada pengobatan jangka panjang.

Bagaimana proses pemeriksaan agregasi trombosit / kekentalan darah?

Untuk pemeriksaan agregasi trombosit, pasien hanya perlu melakukan prosedur pengambilan darah seperti biasa, dengan syarat sebelumnya melakukan puasa selama kurang lebih 8-12 jam; dimana pada saat puasa hanya diperkenankan untuk mengkonsumsi air putih.

Fungsi dan indikasi klinis pemeriksaan agregasi trombosit:

1.Mendeteksi agregasi trombosit yang abnormal yang disebabkan kelainan genetik, contohnya dalam kasus-kasus seperti: Sindrom Vernard-Soulier, Sindrom Chediak-Higashi, "von-Willebrand's disease", thrombastenia.
2. Mendeteksi efektivitas pengobatan untuk menurunkan fungsi agregasi trombosit (obat"pengencer darah"), atau memantau efek samping obat-obatan yang bisa menurunkan agregasi trombosit.
3. Mendeteksi penurunan fungsi trombosit pada keadaan-keadaan seperti sirosis hati atau uremia.

Hal-hal yang mempengaruhi agregasi trombosit:

1. Peningkatan agregasi trombosit bisa ditemukan pada keadaan-keadaan seperti: atheromatosis, diabetes melitus/kencing manis, hiperlipidemia ( keadaan kolesterol darah yang tinggi), polisitemia vera
2. Penurunan agregasi trombosit bisa ditemukan pada keadaan-keadaan seperti: afibrinogenemia,anemia , talasemia, Sindrom Vernard-Soulier, Sindrom Chediak-Higashi, "von-Willebrand's disease", sirosis hati, uremia, idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP).
3. Penurunan fungsi agregasi trombosit juga bisa disebabkan obat-obatan yang dikonsumsi, contohnya:
  • Antibiotik(cnth:penisilin, sefalosporin)
  • Antihistamin/anti alergi
  • Anti hipertensi/darah tinggi (Contoh : golongan captopril, nifedipine)
  • Obat-obat anti nyeri dan anti radang (Anti Inflamasi non Steroid/NSAID) termasuk didalamnya golongan aspirin
  • Kafein
  • Obat-obat jantung dan pembuluh darah (Contoh : golongan nitroprusida, propanolol.)
  • Narkoba (contoh: kokain, ganja).

Menjelang pernikahan ada banyak hal yang perlu di persiapkan oleh calon pengantin. Salah satu hal yang penting untuk di persiapkan adalah pemeriksaan kesehatan pra pernikahan, atau yang di kenal dengan istilah pra-marital test. Pemeriksaan kesehatan penting dilakukan karena berkaitan erat dengan bagaimana kondisi kesehatan masing-masing pasangan, bagaimana kondisi kehamilan pasangan wanita nantinya, bagaimana pasangan suami istri dapat membentuk keturunan yang baik dan sehat.

Beberapa pemeriksaan laboratium yang rutin dilakukan sebagai panel pra-marital test yaitu: Pemeriksaan penyaring untuk diabetes Melitus. Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit metabolic endokrin dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Seorang wanita yang ternyata terdeteksi memiliki penyakit diabetes dan tidak segera ditangani maka akan berpengaruh pada morbiditas dan prematuritas bayi.

infeksi hepatitis B merupakan infeksi virus hepatitis yang paling serius, terutama menyerang hati. Penularan dapat terjadi melalui darah atau cairan tubuh yang terinfeksi virus hepatitis, misalnya melalui donor darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, dari ibu yang terinfeksi kepada bayi.Infeksi kronik hepatitis B merupakan factor resiko utama untuk terjadinya kanker hati. Pemeriksaan awal yang rutin dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi virus hepatitis B adalah dengan memriksa adanya antigen permukaan virus hepatitis B ( HbsAg ).(IPD 1 )

Thalassemia merupakan penyakit herediter yang memberikan hasil berupa kelainan sintesis hemoglobin. Penyakit thalassemia diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Jika kedua orang tua adalah pembawa sial thalassemia, maka 25% anak berpeluang menderita, 50% anak berpeluang menjadi pembawa sifat thalassemia. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis thalassemia misalnya : pemeriksaan darah lengkap, evaluasi hapusan darah tepi, pemeriksaan status besi, dan analisis hemoglobin.

Hemophilia adalah penyakit pendarah akibat kekurangan factor pembekuan darah yang diturunkan secara sex-linked recessive.sampai saat ini dikenal 2 macam hemofilia yang diturunkan secara sex recessive linked yaitu hemophilia A ( gangguan pada factor pembekuan VIII ) dan hemophilia B (gangguan factor pembekuan IX). ( IPD II ). Pasien dengan hemophilia dapat mengalami pendarahan yang lebih lama dibandingan dengan orang normal. Kelainan laboratorium yang dapat ditemukan berupa gangguan pada uji hemostasis, dan berkurangnya aktivitas faktor VIII/IX. (IPD2)

toxoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii.Hewan dari keluarga kucing merupakan host deffenitive dari parasit tersebut, dimana parasit dapat ditemukan pada kotoran host deffenitive. Infeksi terhadap manusia dapat terjadi misalnya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, transfusi darah yang terinfeksi, transplantasi organ, atau dari ibu terhadap janin melalui plasenta. Manifestasi klinik dari infeksi toxoplasmosis congenital dapat berupa lesi inflamasin pada otak dan retina mata yang dapat menimbulkan kelainan saraf dan penglihatan secara permanen.

Rubella atau dikenal dengan nama German Measlles ( campak jerman ) adalah infeksi virus yang umumnya menyerang anak-anak. Infeksi Virus Rubella umumnya menimbulkan keluhan yang tidak berat dan dapat sembuh dengan sendirinya. Gejala yang sering munculnya bercak kemerahan yang dimulai dari bagian wajah, menyebar keseluruh tubuh. Infeksi Rubella yang terjadi selama kehamilan sangat berpotensial untuk mengganggu perkembangan janin dan menimbulkan kecacatan : yang dikenal dengan istilah Congenital Rubella syndrome ( gangguan pendengaran, kecacatan pada jantung, gangguan pada mata dan system saraf pusat ). Seorang calon ibu akan dianjurkan untuk menerima vaksinasi rubella, dan dianjurkan untuk tidak hamil sekurangnya 1 bulan setelah vaksinasi.

Cytomegalovirus merupakan virus DNA, dan menyerang manusia. Penularan infeksi cytomegalovirus dapat secara horizontal ( transplantasi organ, transfuse darah, kontak seksual ) dan dapat juga ditularkan dari ibu kepada janin melalui plasenta. Manifestasi klinik dari infeksi cytomegalovirus congenital dapat berupa : pembesaran organ, gangguan pada mata dan telinga, retardasi mental, dan kejang.

Terdapat dua macam infeksi Virus Herpes Simpleks. Pertama infeksi virus Herpes Simpleks tipe I yang biasanya di dapatkan pada masa kanak – kanak dan penularannya bukan melalui kontak kelamin. Kedua adalah infeksi primer Herpes Genitalia pada wanita dapat berupa adanya vesikel dan luka pada glans penis dan penis, lesi pada daerah kulit anus dan sekitarnya. Baik pada laki-laki ataupun wanita, gejala dapat juga disertai dengan adanya demam, rasa lemas, nyeri kepala dan otot.

HIV adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Penularan dari ibu kepada bayi dapat terjadi selama masa kehamilan, proses bersalin, ataupun pada saat menyusui. Banyak wanita yang terinfeksi oleh HIV tidak mengetahui bahwa mereka terlah terinfeksi, oleh sebab itu di rekomendasikan untuk melakukan screening test terhadap infeksi HIV sebelum masa kehamilan.
@ 2011 Gunung Sahari - lapandesain.com